Teman Kami

Teman saya adalah teman istri saya juga.

Teman istri saya adalah teman saya juga.

Sebenarnya dua kalimat di atas adalah pokok pikiran dari cerita berikut.

Pada awalnya saya tak mengenal teman-teman istri saya di kampus, pun istri saya tak mengenal teman-teman saya di kampus. Maklum kami menikah saat masih sama-sama mahasiswa.

Lalu, ketika pulang ke Jogja saya jadi sering ikut ngumpul bareng temen-temen kuliah istri saya. Akhirnya saya jadi kenal dengan Arif Priyo, Pak RT, Onet, Tiwi, Ndoet, Mbak Asih, Isna.

Istri saya kenal dengan teman-teman kuliah dan kerja saya karena saya sempat memboyongnya ke Bintaro dan Cikampek. Istri saya tidak asing dengan Mas Arif Khoirun, Agung Pamenang, Ferry, Mario, Mang Ade, dsb. Namun ada dua orang teman saya jaman masih di Balikpapan yang kemudian saling mengenal dengan istri saya juga.

Pertama adalah Mbak Gusti, Ia adalah kawan diklat saya tahun 2008. Tinggal di asrama selama sebulan, membuat saya dan Mbak Gusti cukup akrab, ndilalah juga kami berdua memang nyablak. Hingga akhirnya pada suatu waktu Mbak Gusti ada kerjaan di Jogja beberapa hari, karena saya di Jakarta dan tidak bisa menemuinya, jadinya istri saya yang jalan-jalan sama Mbak Gusti.

Kedua adalah Monalisa, kawan satu kost waktu di Balikpapan. Kebetulan kost saya dulu campur. Setelah menikah, Mona pindah ke Solo. Lalu suatu saat istri saya jalan-jalan ke Solo dan dijamu sama Mona. Tahun lalu, waktu saya berkunjung ke Manado, saya sempatkan mampir ke rumah Mona di Mokupa, sekitar 1,5 jam dari Kota Manado. Kebetulan waktu itu Mona mudik Natal. Trenyuh saya saat suaminya Mona, Mas Sapto, jemput saya naik motor jauh-jauh dari Mokupa ke Manado, terus ke Mokupa lagi. Besoknya Ia mengantar saya ke bandara, naik motor juga, Mokupa-Manado-Mokupa. Amazing.

Minggu ini saya berkesempatan berkunjung ke Pulau Belitung. Di pulau ini kebetulan ada salah seorang temen kuliah istri saya, namanya Isna. Ia asli Bantul dan sekarang mengabdi di Belitung Timur sebagai guru. Saya sendiri dulunya juga pernah ketemu dengan Isna waktu Ia masih di Jogja, jadi tak sulit bagi saya untuk berkomunikasi dengannya, mungkin memang dasarnya saya tingkat PD-nya agak over dosis.

Dan hari ini (6/7/2019) saya sempatkan berkunjung ke rumah Isna di Simpang Pesak sekalian jalan-jalan ke Museum Kata Andrea Hirata di Gantung, Belitung Timur. Jarak dari Kota Tanjung Pandan sekitar 60 km. Jalanan Tanjung Pandan ke Simpang Pesak bisa dibilang lancar jaya, jalan bagus sekali dan sepi, kurang lebih 1,5 jam saya sudah sampai sana. Kalau ngebut kayaknya sih 1 jam nyampe, lha tapi kan saya itu gak bisa ngebut kalau nyetir.

Alhamdulillah hari ini saya bisa silaturahmi ke Isna plus ditemeni jalan-jalan ke Manggar (Ibu Kota Kabupaten Belitung Timur), Replika Sekolah Laskar Pelangi, dan Museum Kata Andrea Hirata. Ini adalah pengalaman yang menakjubkan bagi saya, tak ada rencana sebelumnya akan kesini. Kebetulan ada tugas kesini, lalu rental mobil, nyetir sendirian dari Tanjung Pandan ke Simpang Pesak.

Apakah Andrea Hirata berkesan bagi saya? Ya, sejak 2008 saya sudah membaca novel-novel karya Andrea Hirata. Dan ada beberapa hal yang menginspirasi saya sampai saat ini, salah satunya adalah ketika Bapaknya Ikal akan ke sekolah untuk mengambil raport, beliau mengenakan pakaian paling bagus. Itu juga kami lakukan kemarin waktu akan mengambil raport anak pertama kami, elka.

Bahagia bisa berkunjung ke Belitung, mengunjungi tempat-tempat yang disebutkan dalam novel kesukaan saya, mengunjungi teman nun jauh disana.

Saya sungguh bahagia bisa keliling Indonesia, namun saya juga berharap dapat bertemu keluarga saya setiap hari. Yes, this is the opportunity cost.

Semoga 2019 ini adalah tahun terakhir saya LDR.

Salah satu tulisan yang terpajang di Musem Kata Andrea Hirata.

#Sahabat