Last Seen : Nobody

Note : Posting kali ini akan berisi curhatan yang sama sekali tidak ada faedahnya. Mohon bersabar, saya sedang ujian.

Empat bulan ini sungguh tidak terasa lamanya, rasanya baru kemarin tanggal 1 Januari, lalu tiba-tiba sudah bulan Mei. Minggu-minggu penuh tekanan terus kami lalui. Hingga saya paham kenapa di setiap iklan lowongan pekerjaan selalu ada kata-kata “dapat bekerja di bawah tekanan”. Ya, akhirnya saya paham juga bahwa pekerjaan tetaplah harus selesai sesuai deadline, atau kita yang dead. Tak peduli kita tertekan, hampir gila, kapal oleng, pekerjaan tetap harus selesai. Masalah habis itu kita yang terkapar, itu perkara lain, yang penting target tercapai.

Sebenarnya saya menyukai pekerjaan saya sekarang ini, bahkan ini adalah pilihan saya 2 tahun yang lalu. Tapi ternyata rasa suka dengan bidang ini tidak lantas membuat bekerja di bidang ini selalu menyenangkan, penuh tawa suka cita. Akhirnya saya merasa tertekan juga. Jam kerja yang normalnya 8 jam, dengan sukarela saya bekerja hingga 12 jam sehari. Dan itu terjadi sejak 1,5 tahun yang lalu. Sempat saya merasa wajar bekerja dengan pola seperti itu karena prinsip saya bekerja dengan perasaan terpaksa itu tidak baik, maka saya mencoba berdamai dengan keadaan. Ya, saya berusaha memaklumi posisi saya sekarang dan tuntutan pekerjaan.

Hingga akhirnya tibalah bulan April, penat itu akhirnya datang juga. Saya rindu saat saya berjam-jam menunggu antrian di bank, saya rindu saat saya duduk lama di kereta api dengan perasaan damai sambil memandang hamparan sawah yang luas, saya rindu saat saya membaca novel sampai ikut mbrebes mili, saya rindu berangkat kerja penuh semangat, saya rindu pulang tepat waktu sebelum gelap menyapa, saya rindu saat belum ada WhatsApp.

Tidak ada yang salah dengan pekerjaan, saya saja mungkin yang kurang ilmu. Toh nampaknya orang lain kelihatannya tidak terlalu tertekan. Saya yang salah, ada yang salah dengan saya.

Hidup memang tak semudah
Waktu kita muda dulu
Umur terindah pasti kan berlalu
Strategi hidup bertahan
Dari seleksi sang alam

Jalan Terus – Sheila on 7

Sejak menggunakan WA 5 tahun yang lalu, tak pernah terpikir untuk menyembunyikan status last seen ataupun status pesan yang dikirim sudah terbaca atau belum. Dari dulu saya membiarkan rekan-rekan saya bisa melihat kapan terakhir online maupun tanda pesan sudah terbaca atau belum, kalaupun saya belum bisa menjawab tetap saya balas dulu “wait” atau apapun sebagai bentuk penghormatan. Sakit kan cuma di-read tapi gak dibalas?. Hingga pada suatu waktu saya merasa kewalahan, WA datang bertubi-tubi, semua minta dijawab dengan cepat, ada yang minta data, ada yang minta konfirmasi, ada juga iklan tanpa bayaran. HP saya letakkan di ujung meja, untuk beberapa waktu saya tidak memegangnya. Saya takut membuka WA, selalu tentang ketergesaan. Saya biarkan telepon berdering berkali-kali, saya enggan menerima telepon. Berikan saya waktu sejenak.

Saya menyerah. Saya putuskan untuk menyembunyikan last seen dan read receipt di WA maupun Telegram serta tidak mengangkat setiap telepon yang nomornya belum saya ketahui. Saya tidak bermaksud lari dari tanggung jawab, saya hanya butuh waktu untuk berpikir, menyiapkan kata-kata, menyiapkan data, atau mungkin saya hanya ingin mendengarkan sebuah lagu dulu sampai selesai baru kemudian membalas pesan.

Semenjak itu saya sedikit bisa bernafas panjang, kalau ada WA masuk saya tidak buru-buru menjawabnya, toh yang disana tidak tahu pesannya sudah saya baca atau belum. Saya hanya mencoba mengatur ritme kerja saya. Target saya pekerjaan selesai tepat pada waktunya, semua pesan terbalas, dan saya tetap bisa ikut tertawa saat melihat film lucu. Jujur saya sedih ketika saya sulit tertawa saat melihat adegan lucu.

Kembali Seperti Dulu..

Saya ingat awal-awal kerja dulu, 12 tahun yang lalu, pukul 6.30 saya sudah di pinggir jalan menunggu bis jemputan. Kalau terlewat, akan habis banyak uang karena harus naik taksi, tidak ada angkot yang lewat kantor saya. Jam 17.00 tepat absen sore terus pulang naik bus jemputan lagi. Selepas maghrib saya dan teman-teman kos makan bersama di warung dekat kos, kadang-kadang juga main ke mall atau gramedia. Tidak ada pembicaraan soal pekerjaan. Saat itu saya mulai ngeblog, saya juga masih sempat baca buku, masih sempat ngoprek motor.

Waktu memang tak mungkin kembali. Pekerjaan saya sekarang jauh lebih banyak, tanggungjawab lebih besar, pikiran lebih complicated. Tapi tak bisakah saya punya waktu lagi untuk menikmati novel-novel yang mengharukan, atau sekedar posting di blog seminggu sekali saja?

Normalnya itu ya mengikuti norma yang ada. Sesederhana itu. Ketika jam kerja sudah diatur jam 07.30-17.00, ya jatah waktu untuk bekerja ya hanya sebatas itu. Sialnya, saya terlanjur bekerja dengan pola yang tidak normal. Dan ketika saya lupa kapan terakhir baca buku sampai selesai, kapan terakhir ngeblog dengan sepenuh hati, kapan bisa tidur nyenyak, kapan terakhir ngaji, saya sadar ada sesuatu yang salah. Ada sesuatu yang melebihi batas.

Lalu, bulan Mei ini saya mulai..
Berangkat kerja jam 7.15..
Pulang kerja jam 17.00
Pekerjaan yang belum selesai, dilanjutkan besok..
Pulang kerja tidak membawa ThinkPad..
Membaca novel lagi..
Ngeblog lagi..
Semoga bahagia lagi..

Belum waktunya kita berhenti
Jangan cepat puas kawan
Bekerja dan terus bekerja
Hingga saat kita tak berguna lagi

Jalan Terus – Sheila on 7

#Curhat