Ayo Mudik dan 17-an di Jogja

Ehm… ternyata aku udah 6 bulan tidak mudik… ini paling lama selama aku merantau. Yah… buat orang lain 6 bulan itu sebentar, tapi buat aku itu lama buanget…
Kadang jadi jealeus kalo dikasih kabar adikku kalau di Jogja lagi ada pameran komputer, pameran buku, lagi ada rasulan, pokoke acara apapun di jogja emang ngangeni….
Tinggal 2 hari lagi aku mau pulang kampung, tepatnya hari rabu, 13 Agustus 2008, siang. Pengennya sih naek pesawat yang siang biar sampai di Jogja bisa jalan2 dulu, shoping2 dulu (kalo punya duit), kalau gak ya sekedar muter2 Jogja sambil melepas kerinduan…
Eh minggu kemaren pas konfirmasi ke Mandala aku dikasih tahu kalau ada perubahan jadwal, katanya pesawat2nya punya Mandala lagi maintanance di Singapura (jauh amir..). So.. pesawatku pindah ke jam 18.30, buset malem coy…
Bus dari Jogja ke Semin kan terakhir jam 4? So, it’s OK, ntar kan dijemput bapak ibuk dan opik… hahaha.. Cuma planning yg gak terlaksana adalah… jalan2… Terpaksa deh acara jalan2 diundur habis 17-an di Wonosari, catet : Wonosari, bukan Jogjakarta. Ada beberapa hal yang membuatku tidak bisa (lebih tepatnya tidak mau) 17-an di Jogja. Tapi gak enak kalau ditulis disini. Tp Alhamdulillah setelah tugas paskibraka 17 Agustus 203 aku masih sempat menginjakkan kaki di Ambarbinangun dan Gedung Agung tahun 2007 kemaren.
Nah, sekian dulu info menjelang hari ke-mudik-an ku… Pokoke wis ra iso turu..
Ragaku di Balikpapan, tapi hatiku di Jogja… hahah
NB, aku kmrn habis beli Kemeja + Dasi buat ntar 17 Agustus.

• • •

Lembur Internetan Demi Linux

Whahaha… beginilah orang kalo udah mulai kecanduan Internet (wah kyk narkoba aja..). Rasanya gelisah kalo sehari aja gak Online (Kalo istilahnya Windows Versi Indonesia : Daring, dalam jaringan). Dan semoga saja kegemaranku berinternet bukan karena kecanduan, tapi karena kebutuhan…
Ceritanya begini..sejak beberapa waktu yang lalu, saya penasaran banget sama yang namanya Linux. Sistem Operasi Open Source yang kata orang susah, ribet dsb yang susah2. Tapi entah kenapa kok rasanya hal itu malah semakin membuat saya tertarik dengan mbak Linux (Begitu saya memanggilnya biar kelihatan lebih menarik)..
Sebenarnya saya sudah tertarik dengan mbak Linux mulai SMA, waktu itu cuma sering baca2 artikel di majalah. Tepatnya InfoLinux bekas yang saya beli cuma 10 ribu rupiah. Untungnya saya ketemu Mas Kris (Duta Komp), dia cerita kalo dia punya Mandrake 9. Nah tanpa pikir panjang saya bawa CPU pentium III saya ke tempatnya Mas Kris dan diinstall Mandrake 9. Namun, apa boleh dikata, berhubung bekal Ilmunya belum cukup, saya dibuat pusing dengan maslah seting printer (waktu itu printer saya malah gak bisa ngeprint hitam, tapi abu2). Selain itu saya bermasalah juga dengan Sound card, gak bisa ke detect bos.Emang Install driver di Linux gak semudah di Windows yang tinggal klik, selesai. Dan untuk sementara saya putus asa untuk beberapa waktu.
Saat kuliah, muncul lagi keinginan untuk mempelajari Linux. Nah saya nyobain lagi Linux Red Hat 9, saya berhasil Install, tapi lambat banget. Dan satu lagi yang membuat saya jadi enggan, ternyata Red Hat tidak mendukung file MP3. So? Delete Partition + FDISK/MBR. Habis sudah, dan kembali ke Windows 98 lagi… wah susah tenan jebule…
One day, aku di kotagede ketemu Mas Fitri, dia cerita kalo punya byk CD Ubuntu (Dulu aku gak tau babar blas apa maksudnya ubuntu, tapi saya sudah sedikit tau tentang Gnome dan KDE). Nah.. waktu itu masih Ubuntu 5.04. Masih 2 Cd, satu installer dan yang satu lagi versi Live CD. Dan saya mulai bersemangat lagi nyoba2 install di komputer saya. Dan berhasil. Namun berhubung waktu itu masih music oriented, saya jadi enggan lagi. Akhirnya lama saya mencari kesana kemari mencari distro Linux yang cocok buat saya dan mudah. Saya mulai mengumpulkan distro-distro plus info-info tentang distro itu. Ada lumayan banyak juga, antara lain :
1. PC Linux OS .Ini tampilannya bagus banget, bahkan menurut saya lebih bagus ketimbang windows XP. Bersih dan menarik.
2. Puppy Linux. Wow… imut.. lambanya Gug Gug (Anjrit). Ringan banget, lha wong cuma 50 MB, dan sederhana.
3. Knoppix. Ini aku pertama dapet tahun 2003. wah hebat, gak perlu diinstall, langsung dari CD. Tampilannya biru, indah tapi berhubung saya masih buta dengan perintah tulis, akhirnya saya menyerah juga.
4. Freespire. Tampilannya mirip windows. Mudah pakai. Cuma saya jadi males karena dia gak bisa ngenali soundcard di Laptop saya.
5. Pacer Linux. Ini Linux keluaran dari Acer. Produsen PC dan Laptop itu lho… Bagus sih, tapi saya gak terlalu suka dengan taskbanya, bosen, mirip windows. Dan entah kenapa kok saya kesulitan setting buat internetnya. Padahal itu turunannya Knoppix. Dan waktu saya instal di Laptop saya (dual boot), Pacer tidak mendeteksi adanya OS Windows XP SP2 yang sudah ada. Jadi MBR nya ketutup dan tidak muncul di Grub.
6. SimpleMEPIS. Bagus sih, desktopnya agak santai, ada aquariumya lagi.. Tapi ternyata karena kebodohan dan tidak berani mengambil resiko, saya tidak berhasil nyetting display biar bisa 1024x sekian (maklum, saya pake komputer kantor buat percobaan)
7. Ubuntu. Ini linux yang palinhg manusiawi, bagaimana tidak, slogannya aja Linux for Human Being. Tampilan orange menarik, desktop interfacenya pake Gnome. Ringan. Aplikasi cukup lengkap, tapi karena hak cipta, tidak mendukung format MP3. (dan saat menulis ini, saya sedang download Ubuntu 6.10, dan kayaknya bakalan semaleman neh..)
8. Kubuntu. Ini saudara kandungnya Ubuntu, cuma kalo yang ini pake KDE. Saya sempat bahagia, saya berhasil install di Laptop dan di Grub keliatan Micrst. windows XP. Artinya bisa deteksi kalo ada OS lain di Laptop. Nah pada siatu hari aku bawa ke Warnet WiFi, eh ternyata Kubuntu tdk mengenali Hardware saya… pening… nyesel, padahal tampilannya cantik sekali.

• • •

16 Jam Nonstop Internetan

Wuih..akhirnya setelah 16 jam download file ISO Ubuntu 6.10 LTS Edgy Eft. 2 Maret 2007 menjadi hari yang paling gila dalam hal urusannya dengan internet. Saking kepengennya nyobain Ubuntu, hari itu aku memutuskan untuk ikut paket malam di radjanet. Perkiraanku waktunya cukup untuk mendownload file 700 MB, tapi ternyata meleset jauh sekali.
Jam 10 malam aku dah datang di warnet bawa Laptop kesayanganku. Langsung saja kunyalakan Kubuntu, eh lha kok Wifi tidak terdeteksi. Ya.. akhirnya gak jadi ngrasain internetan pake Linux. Back to Windows XP (Bajakan tentunya). Pertama-tama buka email, friendster, dan sbgnya yang sekiranya perlu, termasuk update antivirus dan update my Firefox. Setelah beres, jam 11 tepat aku mulai mendownload melalui mirror di Taiwan. Karena berurusan dengan file yang besar, tentu saja aku memanfaatkan Download Accelerator 8.1. Cukup bagus, keuntungannya kita bisa pouse dan resume. Jadi misalnya sewaktu-waktu listrik padam, bisa dilanjutkan nanti.
Waktu sudah menunjukan pukul 04.00, aku belum tidur sama sekali, dan aku mulai gak tenang sewaktu liat indikator baru bejalan 40 persen. Wah bisa sampai siang neh.. Dan benar, jam 8 pagi paketanku habis, aku baru dapat 60 persen. akhirnya aku ambil paket lagi 3 jam, tapi ternyata tidak cukup juga. Warnet sudah mulai ramai, jadi koneksinya semakin lambat. Dan pukul 13.00 Akhirnya aku menyerah, sudah 99 persen. Aku lelah, dan laptopku mungkin lebih lelah lagi bekerja nonstop hampir 15 jam. And I go home with unfinished work…
Sementara aku mandi aku berpikir, mungkin gak ya di resume di kantor? Im sure. Jam 2 lebih aku ke kantor, setting ini itu. Dan Alhamdulillah masih bisa di resume, itu artinya apa yang kulakukan semalaman menjadi tidak sia-sia. Aku tidak butuh internet yang cepat, yang penting stabil itu sudah cukup.
Kujalankan lagi DA 8.1 ku, what.. kecepatannya cuma 2,5 KBPs. Lambat betul… Tak apa. Sembari menuunggu download, aku tidur di Sofa, bangun-bangun jam empat, download sudah selesai. Kucoba burn di CD dan Alhamdulillah berhasil. Insyaallah malam ini akan kucoba install di Laptopku, menggantikan Kubuntu 6.06 yang telah lebih dulu nongkrong.
Alhamdulillah.

• • •

Kenapa Harus ke Supermaket?

Tiba-tiba saja terpikirkan oleh saya bagaimana jika dimana-mana berdiri supermaket? Apa jadinya warung-warung kecil yang lebih dulu berdiri?
Di satu sisi memang berdirinya supermaket dan mall sebagai indikasi adanya peluang usaha dan perkembangan ekonomi, namun di sisi lain hal itu menjadi sebuah kekhawatiran bagi usaha-usaha kecil yang telah berdiri sebelumnya? Mungkin saja pasar yang telah mereka kuasai sekonyong-konyong hilang, dan beralih ke Supermaket dan Mall yang biasanya mampu menjual barang dengan harga yang lebih murah. Dan tidak mustahil, suatu saat nanti pasar-pasar tradisionalpun akan tergusur oleh pendirian Supermaket dan Mall. Pertanyaannya?
Bagaimana nasib rakyat kecil yang hidup dari jualan di warung, di pasar atau dengan gerobag dorong?
Kenapa bukan kita yang membantu?
Tentu kebanyakan dari kita lebih senang berbelanja di Supermaket, dengan pilihan yang lebih banyak dan harga yang lebih murah. Sedangkan di warung tetangga kita barangkali lima ratus rupiah atau seribu rupiah lebih mahal. Dan barangnya sedikit, sabun cuma GIV, odol cuma Pepsodent, permen hanya ada Permen Jahe, dsb. Namun, pernahkah kita sadari bahwa uang seratus ribu rupiah kecil sekali nilainya bagi sebuah supermaket. Dengan omset sehari sepuluh juta atau lebih, tentu saja seratus ribu rupiah tidak ada artinya. Dan kalaupun kita tidak berbelanja disana, mereka tidak akan pernah merasa sedih atau merasa ada sesuatu yang kurang. Bandingkan dengan sebuah warung kecil yang omset perharinya hanya seratus ribu rupiah, dengan keuntungan bersih kira-kira dua puluh lima ribu per hari. Tentu saja uang lima ribu rupiah sangat berarti bagi sebuah warung. Artinya, kalau kita berbelanja di Supermaket, kita hanya beruntung dari segi materi.
Bagaimana dengan membeli di warung tetangga. Tentu saja kita tidak perlu membanding-bandingkan harga, sudah pasti lebih mahal. Mereka kulakan sudah dari penyalur kesekian dari produsen, sedangkan Supermaket barangkali langsung dipasok oleh produsen tanpa perantara. Logis kan? Jika kita hanya melihal dari segi materi, jelas pengeluaran untuk belanja kita menjadi lebih besar. Namun, disisi lain apakah kita tidak ikut bahagia ketika tetangga kita bisa hidup layak, menyekolahkan anaknya ke sekolah favorit, dari keuntungan membuka warung yang setiap hari kita belanja disana. Nah, disinilah nilai tambah kita belanja di warung tetangga. Secara lansung atau tidak langsung kita telah meningkatkan kualitas hidup mereka, menumbuhkan kepercayaan sebagai sesama manusia (buktinya kita boleh ngutang, coba kalo di supermaket, mana boleh ngutang?, dan semoga saja Allah membalas dengan anugrah yang lebih indah dari nilai 500 rupiah, 1000 rupiah yang kita ikhlaskan untuk membantu
sesama.
Barangkali selagi masih diberi kesempatan untuk membantu orang lain, BANTULAH !! Mungkin suatu saat nanti ketika kita butuh uluran tangan orang lain, ada orang yang
bersedia mengulurkan tangannya…

• • •