Pantangan #2

Pada posting sebelumnya saya sudah menceritakan tentang pantangan saya soal makanan gegara vonis asam urat dan kolesterol tinggi. Nah, pada bagian dua ini saya mau menceritakan tentang pantangan yang saya tetapkan untuk saya dan keluarga saya. Makanan lagi? Oh tidak. Ini tentang hal-hal kecil atau sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini sejalan dengan sebuah quote “Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu (Ali bin Abi Thalib)”. Ya, saya meyakini itu. Ada beberapa sebab mengapa saya menetapkan pantangan ini, misalnya :

1. Menghindari komentar positif maupun negatif dari orang lain

Ah masak orang lain gak boleh memberikan komentar? Ya kalau mau komentar silakan saja, tapi saya sendiri berusaha menjaga agak orang tidak berkomentar, kalau dicaci bikin sakit hati, kalau dipuji bikin lupa diri. Sudahlah.. Berdasarkan pengalaman saya, pujian itu berbahaya, cenderung membuat saya menjadi kemaki. Lalu komentar negatif, ya silakan saja selama disampaikan secara baik-baik ke saya gak apa-apa, yang bahaya itu komentar negatif disampaikan ke orang lain. Bisa jadi fitnah.

2. Agar tidak menimbulkan jarak dengan orang lain

Saya itu pengen jadi orang yang ngumumi saja, agar orang lain tidak sungkan bergaul dengan saya. Saya pernah punya pengalaman masalah reuni, ada kawan saya yang tidak mau datang ke acara reuni karena minder, menurutnya teman-temannya sudah berhasil, sedangkan ia biasa saja. Beberapa yang lain menganggap reuni hanya ajang pamer sehingga membuat beberapa teman saya enggan untuk datang. Namun, saya pernah juga salut dengan seseorang yang rela naik motor dari Karawang ke Jakarta untuk menghadiri reuni. Orang seperti itu langka.

3. Agar tidak menimbulkan fitnah

Pekerjaan dan apa yang telah saya miliki sampai hari ini berpeluang sekali menimbulkan fitnah. Sederhananya begini, ketika Anda baru kenal seseorang lalu akhirnya Ia tahu Anda bekerja di suatu instansi yang citranya kurang baik, tetiba terlintas dalam pikirannya “Pantas saja kaya”. Nah citra yang kurang baik bertemu ketidaktahuan itu berbahaya. Berbeda rasanya kalau saya bekerja di perusahaan minyak lalu orang berpikiran “Pantas saja kaya”. Tak ada prasangka buruk disana. Beda kan rasanya?.

Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu. (Ali bin Abi Thalib)

Nah, dalam keseharian saya ada beberapa hal yang sebisa mungkin saya hindari demi menjaga 3 hal di atas. Antara lain:

1. Share Lokasi di Medsos secara Berlebihan

Saya sesekali juga share lokasi, tapi saya sangat selektif. Apalagi untuk lokasi yang sering saya kunjungi. Saya tidak ingin terlacak dan ditebak. Mungkin ada yang berpikiran “Kok kamu jarang banget share foto-foto piknik? Kamu jarang piknik ya?”. Hmmm.. Bisa jadi. Tapi bisa juga tidak. Ada banyak tempat yang kami kunjungi, dan cukuplah kami sendiri yang tahu.

2. Share Foto Anak di Medsos secara Berlebihan

Siapa sih yang tidak bahagia memiliki anak? Tentu Anda bisa membayangkan betapa bahagianya saya setelah 4 tahun menikah akhirnya dikaruniai anak. Dan mungkin Anda juga bisa membayangkan betapa sedihnya keluarga yang belum dikaruniai anak ketika melihat foto-foto anak yang begitu menggemaskan, mereka sangat menginginkannya tapi mereka tak punya kuasa. Nah, hati teman-teman yang doanya belum dikabulkan itulah yang saya berusaha jaga. Oleh karena itu di medsos saya termasuk jarang posting tentang pernikahan dan anak, karena ya itu tadi, ada hati yang harus dijaga.

Suatu hari saya pernah ditanya seorang ibu muda, kebetulan umur anak kami hampir sama. Ia bertanya anak saya sudah bisa apa saja? Sederhana bukan? Saya enggan menjawabnya karena sebenarnya saya khawatir akan membuatnya sedih dan berpikir “perkembangan anak saya kok lambat ya?”. Tahu kan maksud saya?.

Saya pernah punya pengalaman juga gara-gara share ucapan ulang tahun anak saya, kemudian ada teman yang membaca update status itu, lantas ia memberikan kado untuk anak saya. Jujur saja itu membuat kami merasa punya hutang, dan mulai mencari-cari kapan anaknya ulang tahun, kami harus gantian memberi kado. Sejak saat itu kami berhenti update status saat anak kami ulang tahun. Cukup kami saja yang mengucapkannya kepada anak kami, cukup kami saja yang mendoakannya, cukup kami saja yang memberinya kado.

3. Mengeluh di Medsos

Menurut saya mengeluh itu tidak menyelesaikan masalah, kalaupun terpaksa mengeluh ya sewajarnya saja. Saya sendiri juga bukan orang yang setegar itu, kadang saya ngeluh kalau tanggal tua + pekerjaan menumpuk 🙂 Tapi saya ngeluhnya ke istri saya. Menurut saya ini pilihan terbaik, istri akan tahu apa yang kita rasakan. Malah bahaya kalau menceritakan hal pribadi kepada orang lain, dan lebih parah lagi kalau mengeluh di medsos, ribuan orang yang baca bro. Apa coba perlunya orang lain tahu kalau kita sedang gak punya duit, sedang meriang, atau sedang pusing mikirin kerjaan yang gak habis-habis? Misalnya 80% dari postingan Anda isinya keluhan, orang akan berpikiran bahwa Anda hobinya mengeluh.

4. Share Foto Di Dalam Mobil

Kami hidup di desa yang sebagian besar warganya adalah petani. Selain itu, kawan-kawan kami banyak juga yang belum berkesempatan memiliki mobil, tapi mereka punya FB dan instagram. Ada rasa tidak nyaman ketika kami menampilkan sesuatu yang bagi orang-orang di sekitar kami masih dianggap barang mewah.

5. Share Pekerjaan dan Foto Berseragam di Medsos

Saya bekerja di sebuah instansi yang citranya kurang baik. Meskipun instansi saya telah melakukan banyak hal untuk memperbaiki citra, namun di masyarakat awam masih saja ada yang berpikiran negatif. Lah kalau sudah tahu seperti itu, tunjukkan dong kalau kamu tidak seperti yang mereka pikirkan. Hmmm.. Saya pilih diam. Biarlah mereka tidak tahu saya bekerja dimana dan saya berusaha menjaga agar yang mereka pikirkan tidak akan pernah terbukti pada diri saya. Dikarenakan saya tidak mau orang lain tahu tentang pekerjaan saya, saya tidak pernah menceritakan pekerjaan saya di medsos, dan tidak pernah share foto dengan berseragam. Kalaupun pernah, semua identitas sudah saya blur.

Alasan lain adalah biar tidak mudah ditebak, jika orang tahu kita kerja dimana, posisinya apa, orang akan dengan mudah menebak berapa gajinya. Lalu orang akan mulai membandingkan dengan harta-harta kita yang kelihatan, dan ketika orang lain menilai itu tidak masuk akal, bersiaplah menerima prasangka buruk dari orang lain. Pembelaan apapun yang kita sampaikan, tak akan pernah didengarnya. So, sebelum itu terjadi, keep silent.

Semua hal di atas adalah opini pribadi saya, Anda boleh sependapat, boleh tidak.

Satu hal yang penting adalah, THINK BEFORE SHARE.

Salam.