Cerita Kami Tentang Elana

Cerita Kami Tentang Elana

Selamat datang Elana Sabrina Hasan. Panggil ia Lana.

Alhamdulillahirobbilalamin, pada ulang tahun saya yang ke-31 kemarin saya mendapatkan kado istimewa dari Allah SWT. Yup, adiknya elka lahir di bulan Agustus, tepatnya 1 Agustus 2016. Yeeeyyyy.. 🙂

Sembilan Bulan Sebelumnya..

Saya dan istri saya butuh perjuangan panjang untuk mendapatkan elka, anak pertama kami. Cerita lengkapnya bisa dibaca di Cerita Kami Tentang Elka. Ketika orang lain bercita-cita memiliki 2 anak, 3 anak, atau mungkin 10 anak, ketika orang lain bercita-cita punya anak pertama laki-laki, anak kedua perempuan, dan selanjutnya, kami hanya berani berharap diberikan anak yang sehat, sholeh sholehah. Itu saja. Mau dikasih anak laki-laki atau perempuan, dikasih 1 anak sajapun kami akan sangat bersyukur. Pokoknya manut Gusti Allah. Dan Alhamdulillah elka lahir 2,5 tahun yang lalu, 4 tahun setelah pernikahan kami.

Pada bulan Juni 2015 yang lalu, kami boyongan ke Gunungkidul. Dan sejak saat itu istri saya fokus mengurus elka dan orang tua kami di kampung. Lalu sekitar bulan November 2015, saat kami mulai nyaman dengan lingkungan baru, saat kami sudah semeleh (bahasa Jawa, artinya menerima apa adanya) dengan keadaan kami yang tinggal berjauhan, Alhamdulillah istri saya hamil lagi. Jujur, menurut saya untuk bisa hamil itu butuh pikiran yang semeleh, pokoknya pasrah sepasrahnya. Itu juga yang kami alami saat hamil anak pertama, kami sudah semeleh level NO HOPE.

Awal-awal menikah dulu kami punya rencana memiliki 2 anak sebelum usia 30 tahun, lalu setelah usia 30 tahun kami fokus untuk membesarkan, mendidik, dan menyekolahkan. Sehingga saat saya pensiun nanti anak-anak sudah selesai kuliah semua, dan Insyaallah saya masih kuat momong cucu-cucu saya. Namun Allah punya rencana yang jauh lebih manis. Di usia 30 tahun kami baru akan memiliki anak kedua. Alhamdulillah Allah mempercayakan tanggung jawab ini kepada kami. Insyallah kami akan melakukan yang terbaik.

Selama Hamil..

Sejak keluarga saya pindah ke Gunungkidul, saya pulang 2 minggu sekali. Begitu juga selama istri saya hamil, saya tetap pulang 2 minggu sekali. Jadi jadwal pulang saya disesuaikan dengan jadwal kontrol ke dokter. Untuk pemeriksaan kehamilan dan persalinan kami mempercayakan kepada dr. Ahmad Suparmono, Sp. OG/ Klinik Leonisa.

Di Wonosari memang ada beberapa dokter kandungan, kami memilih Klinik Leonisa karena memiliki fasilitas untuk operasi sesar (SC). Eh ada juga RSUD, tapi yang jadi kendala adalah waktu praktik dokternya. Kalau di Leonisa kami biasanya kontrol sabtu sore. Jadi sabtu pagi saya sampai di rumah, sore harinya kontrol ke Wonosari sekalian halan-halan.. 🙂

Pernah sekali waktu saya tidak bisa pulang saat seharusnya saya mengantar istri saya kontrol ke dokter. Akhirnya istri saya kontrol sendiri ke Puskesmas Ponjong, gratis, pakai BPJS. Dikarenakan pernah periksa ke Puskesmas, maka nama istri saya masuk di data ibu hamil di Puskesmas. Alhasil, pada bulan Juli 2016 istri saya mendapatkan undangan (saya juga diundang sebetulnya) untuk mengikuti Kelas Ibu Hamil yang diadakan oleh Puskesmas Ponjong. Saya tidak bisa menemani istri saya ikut kelas ibu hamil karena saya sedang di Jakarta. Menurut saya ini keren sekali, pemerintah aktif untuk mengedukasi masyarakat, khususnya ibu hamil. Acara tersebut diisi dengan pemeriksaan ibu hamil, sosialisasi, tanya jawab, senam ibu hamil, serta promo susu ibu hamil. 🙂

Kok suaminya ikut diundang? Lha kan situ yang berbuat, ya tanggung jawab dong. Eh maaf, maksud saya perkara kehamilan ini urusan suami istri, bukan cuma istri saja. Suami istri harus tahu apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan, dan apa yang harus dilakukan saat istrinya hamil. Suami harus tahu apa yang harus dilakukan saat kondisi darurat, misalnya tiba-tiba istri mengalami pendarahan. Intinya, suami istri harus kompak biar kehamilannya tetap sehat sampai persalinan. Bayangkan misalnya suami tidak tahu masalah penanganan kondisi darurat, istrinya sudah kontraksi karena mau melahirkan, eh suaminya saking paniknya malah semaput. Njuk piye?

Undangan Kelas Ibu Hamil oleh Puskemas Ponjong

Undangan Kelas Ibu Hamil yang diadakan oleh Puskemas Ponjong

Tangan Besar Elka

My lovely, ingat sakit ini
sebagai cahaya dalam tiap langkahmu
Lovely yang ku tahu pasti
bentang cerah masa depanmu menanti

My Lovely – Sheila on 7

Tangan Besar Elka

Hanya beberapa teman yang menyadari di foto ini ada sesuatu yang salah dengan tangan elka.

Selalu ada hal tak terduga dalam setiap peristiwa besar. Begitu juga dalam proses penyambutan anggota baru keluarga kami, tanggal 22 Juli 2016 malam, seminggu sebelum lana lahir, elka terpaksa dilarikan ke RS Ortopedi Prof. dr. R. Soeharso, Solo karena terjatuh dari kursi. Tulang hasta dan pengumpil tangan kiri elka melengkung. Saya waktu itu masih di Jakarta, sehingga elka hanya ditemani oleh istri saya, Mbah Kakung, dan Mbah Uti. Elka sampai di RS sekitar pukul 21.00, masuk UGD. Setelah dilakukan pemeriksaan, kami lega tulang elka tidak sampai patah, sehingga tidak perlu dipasang platina dan hanya dipasang gips. Pemasangan gips dilakukan pukul 01.00, elka dibius total, selesai sekitar pukul 03.00. Elka tidak diharuskan menginap, jadi setelah subuh langsung kembali ke rumah.

Tepat satu bulan, pada tanggal 22 Agustus 2016 gips di tangan elka dilepas. Alhamdulillah tangannya pulih seperti sedia kala. Saya pada hari itu ijin tidak masuk kerja agar bisa menemani elka ke RS. Saya merasa bersalah waktu kejadian saya tidak bisa langsung pulang, oleh karena itu pada tanggal 22 Agustus 2016 saya harus ada di samping elka.

Elka itu anak yang kuat, waktu jatuh hanya menangis sebentar, dan nurut tangan kirinya digendong biar tidak gerak. Selama satu bulan gips terpasang di tangannya, elka juga tidak pernah rewel minta gipsnya dilepas. Kalau mau mandi elka juga nurut tangannya dibungkus pakai plastik biar gipsnya tidak basah. Ia tetap ceria, bermain seperti biasa seolah tak pernah terjadi apa-apa. I’m proud of You, elka. You are awesome.

Persalinan Terencana..

Jarak waktu kelahiran elka dan lana kurang dari 3 tahun, jadi sejak awal kehamilan kami sudah siap bila nanti harus operasi sesar (SC) lagi. Dokter kandungan waktu itu memberikan perhitungan HPL yaitu tanggal 6 Agustus 2016. Wah tanggal lahirnya tidak jadi disamakan dengan tanggal lahir bapaknya dong, soalnya biasanya untuk kasus seperti istri saya (jarak SC pertama dengan kedua terlalu dekat), operasi sesar dimajukan untuk menghindari kontraksi.

Kami akhirnya memutuskan operasi sesar akan dilakukan hari Senin, 1 Agustus 2016, satu minggu sebelum HPL. Ada beberapa pertimbangan kenapa kami memilih tanggal itu.

  1. Karena bulan Agustus. Yup, bapaknya lahir bulan Agustus dan semoga kelak akan ada 17 Agustus yang bersejarah untukmu. We love Agustus. 🙂
  2. Karena hari Senin. Saya rencana cuti tanggal 1-8 Agustus 2016. Hari Sabtu, 30 Juli 2016 saya pulang, lalu 31 Juli 2016 malam masuk rumah sakit, tanggal 1 Agustus 2016 pagi operasi, tanggal 7 Agustus 2016 saya ulang tahun sekaligus aqiqah, tanggal 8 Agustus 2016 saya kembali ke Jakarta.

Kami sangat bersyukur, rencana kami yang cukup detail terlaksana dengan baik. Alhamdulillah.

Dan apapun keputusan yang kami ambil, tetep saja ada orang yang nyinyir. Itu biyasa. Lha itu si X jarak kelahiran anak pertama dan kedua juga 2,5 tahun, yang pertama sesar, yang kedua bisa normal. Hmmmm.. Cukup dengerin saja.

Beberapa teman ada yang bertanya kenapa kami memilih Leonisa? Jawabannya sederhana, karena dekat dengan rumah. Kalau siang saya bisa ngajak elka pulang buat bobok siang, sekalian nyuci popok di rumah, Ibunya bisa istirahat lebih tenang, dan keluarga yang mau ikutan nemenin di RS juga lebih deket ke RS.

Terus ada lagi yang berkomentar tentang pelayanan di Leonisa. Tapi masalah ini tak terlalu kami pikirkan. Begini, kami sadar Gunungkidul bukan Kota Jogjakarta, Bandung, atau Jakarta, maka kami tidak terlalu berharap standar pelayanan setinggi di kota besar. Dengan pikiran yang kami sederhanakan seperti itu, kami berusaha untuk berpikir positif dan tidak banyak menuntut. Ketika di kamar tidak ada telepon atau tombol emerjensi (entah apa nama resminya, pokoknya tombol buat memanggil perawat itu lho), istri saya selalu meletakkan HP dalam jangkauan tangannya karena istri saya akan menghubungi perawat yang jaga melalui telepon ketika saya sedang jalan-jalan momong elka . Saat kamar mandi baunya kurang sedap, saya beli wipol sendiri. Saat ada yang tidak beres dengan closet duduknya, saya betulkan sendiri. Ini adalah rumah kami sementara, semua yang kami lakukan adalah untuk kebaikan kami. Kami tak akan mengeluh, rasa syukur kami akan kehadiran elka dan lana jauh lebih besar.

Dan Alhamdulillah selama di RS kami tetap bahagia, mulai dari datang pertama kali, saat operasi, sampai rawat inap selesai. Bahkan selama operasi, istri saya malah asik ngobrol sama dokter dan perawatnya, maklum yang dibius perut ke bawah. Inilah sebabnya kami tidak pernah pindah-pindah dokter selama ini, karena selama 8 bulan itulah kami membangun komunikasi dengan dokter dan perawat dengan harapan segalanya akan berjalan sesuai rencana saat persalinan.

Sebelum pulang, tak lupa kami bagi-bagi cenderamata untuk para OB sebagai tanda terima kasih kami untuk mereka. Terima kasih telah membantu kami selama di RS. 🙂

Kelahiran..

Kami datang ke RS Leonisa hari minggu sore, 31 Juli 2016. Sesampainya di RS istri saya diperiksa dulu tensi, berat badan, dan kandungannya. Kami juga menyerahkan hasil lab tes HB dari Laboratorium Citra, Wonosari.

Pukul 04.00 kami dibangunkan perawat agar segera bersiap-siap. Saya menemani istri saya di ruang persiapan, elka ditemani Mbah Kakung.

Pukul 05.00 istri saya masuk ruang operasi dan saya ke mushola untuk sholat subuh.

Pukul 05.15 saya kembali ke depan ruang operasi, ternyata elka sudah bangun dan digendong mbah kakungnya.

Pukul 05.20 Lana lahir dengan selamat. Selamat datang Lana.

Kelahiran Lana

Pukul 06.00 Istri saya dipindahkan ke ruang observasi. Mbah Kakung dan Mbah Uti dari Semin sudah datang.

Pukul 07.00 Istri saya dan Lana dipindahkan ke kamar.

Kami bersyukur ASI istri saya langsung keluar sehingga Lana langsung bisa minum ASI ibunya.

Tentang Nama..

Kalau nama elka sudah kami dapatkan sebelum Ibunya mengandung, anak kedua kami justru kebalikannya. Sampai dengan Lana lahir kami masih belum memutuskan akan diberi nama apa. Inisial akan tetap ESH. Kami sudah dapat nama tengah dan nama belakang, tapi nama depan kok tak kunjung mantep di hati. Sebenarnya kami dulu sempat menyiapkan nama ELENA untuk adiknya elka. Tapi saat kami membuat nama panggilannya menjadi LENA, kami putuskan untuk tidak memakai nama elena, karena kalau nama panggilannya lena itu memiliki arti yang negatif. Kami ingin nama lengkap dan nama panggilan tetap memiliki arti yang positif.

Akhirnya kami memberinya nama ELANA SABRINA HASAN. Kami masih konsisten memakai awalan el untuk anak-anak kami. Jika nama Elka berasal dari bahasa Jerman kuno, nama Elana berasal dari bahasa Yunani. Awalnya sih pengen juga pakai nama Jerman kuno juga, tapi kami tak mendapatkan nama itu.

Elana berasal dari bahasa Yunani yang artinya terang benderang, memiliki arti yang sama dengan Elena. :-). Sabrina memiliki arti kesabaran/ mawar putih/ ratu. Kemudian Hasan, nama belakang Bapaknya. Semoga masa depanmu kelak secerah namamu, Nok.

Tentang Harapan..

Kalau seorang anak perempuan menikah baik-baik kita akan mendapatkan lagi seorang anak laki-laki. Kalau tidak, kita malah akan kehilangan seorang anak perempuan — Quarles

Kini kami memiliki dua anak perempuan, bagi kami pemberian Allah ini sudah lebih dari harapan kami dulu. Orang-orang di sekitar masih ada saja yang komentar, “Jangan berhenti kalau belum punya anak laki-laki”. Kami dengan santai menjawab, “Insyaallah kami kelak akan punya menantu laki-laki yang sholeh”. Allah sudah mengabulkan doa-doa kami, memberikan kami 2 anak perempuan yang luar biasa. Rasanya kami tak pantas meminta lebih dari itu. Kami sadar diri, Allah lebih tahu yang terbaik bagi kami, 2 anak perempuan ini adalah yang terbaik bagi kami. Kelak Elka dan Lana akan membawakan kepada kami anak laki-laki terbaik.

Dalam pikiran kami, anak laki-laki dan perempuan tak ada bedanya. Ketika besar anak lelaki akan merantau, anak perempuan akan mengikuti imamnya. Suatu saat mereka akan pergi, dan pada saatnya nanti kami juga akan pergi meninggalkan mereka, selamanya.

Saya berencana pensiun di usia 50 tahun, di usia itu bisa jadi tinggal saya dan istri saya yang akan tinggal serumah. Elka dan Lana mungkin sudah kuliah UGM. Kami akan menikmati masa tua kami berdua, sambil mengenang saat elka dan lana masih sebatas doa dan harapan.

Janji kami masih sama,

Kami akan berusaha menjadi yang terbaik untuk elka dan lana

memberikan yang terbaik untuk elka dan lana

melakukan yang terbaik untuk elka dan lana

mendoakan yang terbaik untuk elka dan lana

#Elana#elka

Leave a Reply