Kita Tidak Harus Sama

Orang Nyinyir

Setiap orang memiliki kondisi, prioritas, pola pikir, dan latar belakang yang berbeda-beda. Sehingga kita tidak bisa menyamakan atau menuntut A harus sama dengan B. Ketika A di usia 30 tahun memiliki prestasi yang gemilang, belum menikah, pekerjaan mapan, lulus S2, punya rumah, punya mobil. Lalu B masih menjadi karyawan biasa, belum kepikiran melanjutkan S2, gaji tidak terlalu besar. Ini bukan soal benar dan salah. Kita tidak bisa menyalahkan si B yang tidak memburu karir, atau si A yang tidak juga segera menikah. Setiap orang punya alasan dan tujuan untuk membuat suatu keputusan.

Ketika sudah menikah, kita akan dihadapkan pada pilihan istri akan bekerja atau menjadi ibu rumah tangga. Lalu kredit rumah atau tetap ngontrak. Lalu menyekolahkan anak di sekolah negeri, sekolah swasta, sekolah islam, atau sekolah internasional. Sialnya, akan tetap ada orang-orang di sekitar kita yang nyinyir dengan apapun keputusan yang kita buat.

Mereka tak akan pernah mau tahu dengan latar belakang kita membuat keputusan itu. Misalnya:

Si A tak juga menikah karena prioritasnya karir.

Si B masih ngontrak karena tak mau terjerat hutang selama 15 tahun.

Si C dengan gaji besar tetap memilih naik motor.

Si D memilih tetap bekerja meskipun gaji suaminya sudah cukup besar.

dan sebagainya….

Percayalah, akan tetap ada orang yang nyinyir.

So, tetaplah tegak dengan keputusanmu. Ini hidupmu, Ini keputusanmu, kalau hasilnya sesuai harapanmu bersyukurlah dan tetaplah rendah hati. Jika hasilnya tidak sesuai dengan harapanmu, terimalah konsekuensinya, tak perlu menyalahkan siapa-siapa.

 

 

#Nyinyir