Cerita Kami tentang Elka

Kami menamaimu Elka, karena kami percaya pada Allah,
bahwa Allah tidak akan menguji kami melebihi kemampuan kami,
bahwa Allah tidak akan mengubah nasib kami, kecuali kami sendiri yang akan mengubahnya
Cukuplah Allah menjadi Penolong bagi kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung

Elka Shafira Hasan

Elka Shafira Hasan

Kawan, tak terasa 11 September 2014 ini Elka sudah berumur 7 bulan. Sejak Elka masih dalam kandungan saya sebenarnya sudah punya niat kalau Elka lahir saya akan posting tentang Elka, tentang suka duka kami mendapatkan Elka, tentang nama Elka, tentang do’a dan harapan kami tentang Elka. Namun, ternyata saya baru bisa menulis tentang semua itu sekarang, 7 bulan sejak Elka lahir di dunia. Sebelumnya saya hanya mengabarkan berita bahagia kelahiran Elka melalui media sosial.

Tentang nama Elka

Elka, nama ini sudah kami siapkan jauh hari sebelum Ibumu mengandungmu dan melahirkanmu..
Nama lengkap Elka adalah Elka Shafira Hasan. Elka berasal dari bahasa Jerman kuno, ada sebagian yang mengartikan iman kepada Tuhan, ada juga yang mengartikan mulia. Lalu Shafira artinya istimewa, dan Hasan tentu saja nama belakang Bapaknya yang artinya baik. Alhamdulillah kami menemukan nama yang terdengar baik dan artinya baik. Terkadang ada yang memberikan nama yang sekedar enak didengar namun setelah dicari artinya ternyata kurang bagus. Namun ada juga yang memberi nama terpaku pada artinya yang baik, namun sedikit sulit diucapkan dan sering menimbulkan kesalahan penulisan dalam ijazah. Dan bagi kami nama adalah do’a, semoga saja Elka kelak menjadi wanita sholehah.

Perjalanan Panjang Itu..

Kawan, Saya dan istri saya menikah 4,5 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 12 Desember 2009. Sungguh tak pernah terbayang dalam benak kami bahwa butuh 4 tahun untuk menunggu kehadiran Elka dalam keluarga kami. Namun, ini adalah ujian bagi kami. Kami masih bersyukur ujian kami hanya sulit memiliki anak, dan kami tidak diuji dengan kekurangan materi sehingga kami masih bisa konsultasi ke dokter, membeli obat-obatan, dan tentu saja nonton bioskop agar kami tidak stres karena katanya kalau stres akan lebih sulit mendapatkan momongan. Sungguh kami sangat bersyukur, meskipun kadang kami hampir putus asa juga kenapa Allah tak juga mempercayai kami untuk memiliki momongan. Namun kami sudah berjanji apapun akan kami lakukan untuk mendapatkan momongan. Bahkan waktu itu kami siap untuk program bayi tabung jika usaha-usaha yang kami lakukan gagal semuanya.

Tahun ke-1, 2010

Satu bulan setelah menikah kami melanjutkan kuliah kami masing-masing, saya di Jakarta dan istri saya di Jogja. Saya pulang ke Jogja 2 minggu sekali. Secara finansial jujur saja saat itu adalah tahun yang berat bagi kami, namun kami tetap bahagia karena kami adalah manten anyar. Gaji saya yang tidak terlalu besar harus cukup untuk bayar kos, ongkos pulang pergi 2 minggu sekali, makan, bayar cicilan, dan tentu saja untuk mencukupi kebutuhan istri saya di Jogja.
Di tahun pertama pernikahan, kami tidak pernah terganggu dengan pertanyaan “kapan hamil?”. Kami masih menjawabnya dengan santai, “Ya namanya juga jarak jauh..”. Dan kami benar-benar menikmati tahun pertama pernikahan kami.. jalan-jalan, makan-makan, senang-senang..

Tahun ke-2, 2011

Bulan Januari 2011, setelah lulus kuliah saya kembali ke kantor pusat sambil menunggu penempatan yang katanya tidak akan lama. Dan ternyata SK penempatan yang ditunggu-tunggu baru keluar awal Maret 2011. Alhamdulillah saya keluar dari Jakarta. Dalam pikiran saya sudah terbayang betapa bahagianya kami bisa tinggal serumah. Rencananya tanggal 18 Maret 2011 adalah hari terakhir di Jakarta dan tanggal 21 Maret 2011 sudah di Purwakarta bersama istri saya, bahkan kami sudah pesan tiket bis untuk tanggal itu. Namun apalah daya, tanggal 17 Maret 2011 saya dapat panggilan diklat mulai tanggal 21 Maret sampai akhir Mei. Jleb.. Saya akan berada di asrama selama 2 bulan, artinya saya baru bisa serumah dengan istri bulan Juni. Dan peristiwa yang lebih menyedihkan adalah ketika istri saya sakit dan harus opname di rumah sakit selama 5 hari, saya tidak bisa pulang.

Juni 2011 adalah babak baru kehidupan kami di Cikampek (Kantor saya di Purwakarta, namun kami ngontrak rumah di Cikampek). Kami bahagia meskipun rumah kontrakan kami apa adanya. Istri saya mulai mengajar di SMK dekat rumah. Karena waktu itu kami hanya memiliki 1 buah sepeda motor dan 1 buah sepeda, akhirnya kami membuat kesepakatan hari Senin, Rabu, dan Jumat jatah saya ngonthel dari rumah ke kantor yang jaraknya sekitar 7 km. Kalau hari Selasa dan Kamis jatah istri saya naik sepeda, gantian saya bawa sepeda motor. Hari sabtu, giliran saya antar jemput istri pakai onthel, eh motor ding 🙂

Bulan Oktober 2011, Mbah Kakung, Mbah Putri, Bapak, dan Ibu saya akan berangkat haji. Saya sudah membeli tiket bis untuk pulang ke Jogja. Satu minggu sebelum pulang ke Jogja, seharusnya istri saya sudah menstruasi namun sampai beberapa hari ditunggu tak kunjung datang bulan, akhirnya dites pakai test pack. Alhamdulillah akhirnya positif. Saya dan istri langsung ke dokter untuk periksa, sekaligus konsultasi terkait rencana kami untuk pulang ke Jogja. Dokter mengijinkan untuk pulang ke Jogja dan memberikan obat penguat kandungan.

Satu minggu setelah kembali ke Cikampek kami periksa ke dokter, dan diberitahu bahwa seharusnya sudah ada denyut jantung. Satu minggu kemudian kami periksa lagi, dan tetap tidak ada perkembangan, masih belum ada denyut jantung. Akhirnya tanggal 5 November 2011 dilakukan kuretase dengan alasan janin tidak berkembang, tepat satu hari sebelum Idul Adha tanggal 6 November 2011. Kami telah menunggu kabar bahagia itu hadir, dan pada akhirnya kami harus merelakan ia pergi.
Waktu mendapatkan kabar bahagia itu saya sempat membuat judul post di blog saya “Sujud Syukur di Suatu Pagi”. Namun ternyata posting itu berhenti sampai disitu karena kabar bahagia itu hanya sesaat.

Satu minggu setelah Idul Adha, kami mendapat kabar dari Bapak Ibuk saya di Mekkah bahwa kondisi Mbah Kakung kritis, dan kabar duka kembali menyapa kami, Mbah Kakung meninggal dunia di Mekkah. Innalilahi wainailaihi rojiun.. Kami sangat bersyukur masih sempat bertemu Mbah Kakung sebelum beliau berangkat haji.

Mbah Bun

Suatu pagi di Boyolali, Mbah Kakung di kursi kebesaranya sebelum berangkat haji.

Tahun ke-3, 2012

Sebenarnya 3 bulan setelah istri saya dikuret sudah boleh hamil lagi, namun saat itu kami memilih 6 bulan. Pada bulan Mei 2012 kami kembali ke dokter kandungan kami untuk program hamil lagi. Namun setelah beberapa kali konsultasi belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Lalu kami sepakat untuk melakukan test, kami berusaha untuk bersikap fair agar tidak menimbulkan prasangka buruk. Kami sepakat bahwa istri saya test TORCH, dan saya tes SA (Sperma Analisis). Setelah beberapa hari ditunggu hasil laboratorium keluar, hasil lab istri saya bagus semua, namun tidak dengan hasil lab saya. Sperma saya dinyatakan kuantitas bagus, namun banyak yang cacat (Teratospermia). Di Cikampek tidak banyak pilihan dokter, pada akhirnya kami konsultasikan ke dokter kandungan istri saya. Beliau memberikan informasi tentang kualitas sperma saya yang kurang bagus, lalu beliau memberikan obat untuk diminum selama 3 bulan. Setelah 3 bulan saya tes sperma lagi dan hasil masih belum sesuai harapan.

Pada tahun ketiga ini, kami mulai terganggu dengan pertanyaan “kok belum punya momongan”. Kadang dalam hati kami berkata,”memangnya gak ada pertanyaan lain?”. Istri saya bahkan kadang sampai menangis. Ya begitulah, ada orang-orang yang mungkin niatnya berempati, namun malah menyakiti. Pertanyaan itu mungkin tidak masalah ditanyakan kepada pasangan yang baru 1 bulan menikah dan belum hamil, namun jika ditanyakan kepada pasangan yang sudah beberapa tahun menikah ceritanya akan lain.

Babak baru usaha kami dimulai saat pertama kali kami menginjakkan kaki di RSUP Hasan Sadikin Bandung. Masih teringat jelas bagaimana kami pagi-pagi naik bis dari Cikampek menuju Bandung, turun di Terminal Leuwi Panjang, lalu naik taksi menuju RSHS. Waktu itu kami bermaksud menemui dokter spesialis Andrologi, dr. Herman Wibisono. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan dari internet beliau praktik di Klinik Aster RSHS. Namun ternyata saat kami sampai di Klinik Aster, dr. Herman Wibisono sudah tidak praktik disana. Kami sempat bingung mau bagaimana, akhirnya daripada sudah jauh-jauh dari Cikampek, masak pulang tanpa hasil, istri saya yang konsultasi dengan dr. Mulya di Klinik Aster sekalian tanya tentang dokter spesialis andrologi. Dan seperti biasa, istri saya diberi obat penyubur kandungan.

Berdasarkan informasi dari dr. Mulya, untuk masalah kesuburan pria bisa juga ke dokter spesialis Urologi sehingga beliau merujuk saya ke dr. Ricky. Setelah dari Klinik Aster kami langsung ke poli urologi, antri cukup lama. Oleh dr. Ricky saya diminta untuk USG dopler untuk testis, setelah hasil USG keluar saya diminta kembali ke dr. Ricky lagi. Seminggu kemudian saya ke laboratorium Pramita M. Toha Bandung untuk USG Dopler, saya minta hasilnya dikirim karena jarak Cikampek-Bandung cukup jauh. Hasil USG dopler menunjukkan bahwa saya memang memiliki varikokel kanan dan kiri. Saya sudah siap menerima kabar buruk ini.

Hasil lab USG dopler saya bawa ke dr. Ricky untuk pengobatan selanjutnya. Kata beliau saya harus operasi, dan saya katakan saya siap. Dalam pikiran saya, kalau saya tidak dioperasi kemungkinan saya punya anak sangat kecil, namun jika saya dioperasi saya jadi memiliki kemungkinan 50%. Kenapa tidak 100%? Karena ternyata pemulilhan pasca operasi varikokel itu lama, bahkan bisa bertahun-tahun baru berhasil memiliki momongan. Tak apalah, kalaupun tidak berhasil yang penting kami sudah berusaha semaksimal mungkin.

Saya dan dr. Ricky sudah sepakat bahwa operasi varikokel akan dilaksanakan awal Januari 2013, karena akhir Desember 2012 istri saya libur semester dan pulang ke Jogja dan pertengahan Januari 2013 saya akan ada tugas ke luar kota. Namun sampai awal Januari 2013 ternyata saya tidak juga mendapatkan kamar di RSHS. Setelah menunggu beberapa hari tidak juga mendapatkan kamar, akhirnya saya putuskan untuk pindah rumah sakit. Lagi-lagi hasil browsing di internet memberikan petunjuk bahwa dr. Timotius di RS Santosa (Santosa International Hospital) Bandung termasuk dokter yang ahli dalam menangani operasi varikokel.

Saya nekad saja ke RS Santosa untuk menemui dr. Tim dengan membawa rekam medis di RSHS. Dokter Tim sempat tanya, “Mas rujukan dari dr. Herman Wibisono?”. Saya jawab, ” Wah tidak pak, saya melarikan diri dari RSHS pak..”. Beliau balik tanya, “kok tau tentang saya?”, “saya tahu dari internet pak”. Dokter Tim hanya tertawa dan bercerita bahwa dulu beliau juga punya varikokel, 7 tahun menikah baru dapat momongan.

Alhamdulillah urusan saya di RS Santosa tidak seribet di RSHS, booking kamar, asuransi, dan persiapan operasi dimudahkan Allah. Pada tanggal 10 Januari 2013 saya menjalani operasi varicocel. Jahitan di perut saya tambah 2, jadi sekarang ada 3 jahitan, yaitu 1 di sebelah kiri karena hernia, lalu 2 di kanan dan kiri karena varikokel. Saya hanya menginap 1 malam saja di RS Santosa, tanggal 10 pagi datang, malam dioperasi, tanggal 11 sore sudah boleh pulang. Hal ini berbeda dengan operasi varikokel di RSHS yang kata dr. Ricky menginap 3 hari 2 malam. Biaya operasi dan rawat inap di RS Santosa sekitar 7 juta rupiah, yang dicover Askes sekitar 3 jutaan, jadi yang saya bayar sendiri sekitar 4 juta rupiah. Oleh dr. Tim saya dirujuk untuk melakukan terapi dan perawatan setelah operasi di dr. Herman Wibisono di RS Limijati.

FYI, Dr. Ricky sempat manawarkan untuk operasi di RS Limijati, kebetulan beliau juga praktik disana, namun karena perawatan di RS Limijati tidak bisa dicover Askes, maka saya lebih memilih di RS Santosa.

Satu bulan setelah operasi saya baru mulai konsultasi dengan dr. Herman Wibisono. Alhamdulillah, ternyata jalan cerita dari Allah itu bagus sekali untuk mempertemukan saya dengan dr. Herman, dokter yang pertama kali kami cari waktu di RSHS. Kalau saja saya tidak lari dari RSHS, mungkin saya tidak ketemu dr. Herman. Maka dimulailah tahapan berikutnya, yaitu terapi. Setiap 2 minggu sekali saya kontrol, dan bagi kami saat-saat itulah yang cukup menguras tabungan kami. Satu kali kontrol habis sekitar 800 ribu rupiah, belum termasuk transport dan makan, rata-rata total sekali kontrol habis 1 jutaan. Maka dalam 1 bulan paling tidak saya harus menyisihkan 2 juta untuk keperluan kontrol. Ada juga terapi yang harus saya lakukan sendiri di rumah.

Saya masih rutin kontrol ke dr. Herman sampai bulan April 2013. Di bulan Mei, kami memutuskan untuk berhenti sejenak karena kami tidak punya uang lagi. Jadi di bulan Mei itu perasaan kami campur aduk, di satu sisi ingin kontrol, tapi kok ya tabungan sudah habis-habisan. Di sisi lain ada rasa jenuh, sudah habis uang banyak, lelah, namun istri saya tak kunjung hamil. Akhirnya kami hanya pasrah. Meskipun kami tidak kontrol, namun terapi yang bisa saya lakukan sendiri di rumah tetap saya teruskan.

Awal Juni 2013 sebuah kabar gembira datang, istri saya hamil. Alhamdulillah, akhirnya usaha kami berhasil. Saat tahu istri hamil, keputusan selanjutnya adalah kami tidak akan mudik lebaran 2013. Kami akan jaga sebaik mungkin kandungan istri saya agar tetap sehat sampai lahir. Alhamdulillah doa istri saya di ulang tahun pernikahan kami yang ketiga dan do’a yang setiap hari kami panjatkan terkabul.

Doa di ultah perniakahan ke 3

Pada kehamilan ini kami juga memutuskan untuk tidak mengabarkan kepada banyak orang. Kami takut kejadian seperti kehamilan pertama terjadi lagi, padahal sudah kabar-kabar kesana kemari tentang kehamilan. Nanti kalau Elka sudah lahir baru kabar-kabar.

7 Februari 2014

Dokter kandungan yang menangani istri saya adalah dr. Budi Santosa, bagi kami beliau adalah dokter terbaik di Cikampek karena memang kami tak punya pilihan lain. Maklum, Cikampek bukan kota besar seperti Bandung, Jogja, atau Jakarta. Cikampek hanyalah sebuah kecamatan di kabupaten Karawang, maka jangan pernah berharap lebih disana.

Sesuai perhitungan dokter, HPL istri saya adalah tanggal 7 Februari 2014. Malam itu kami sudah menyiapkan semuanya di mobil, siap untuk kelahiran elka. Namun ternyata kata dokter belum ada tanda-tanda akan melahirkan, jadi kami pulang lagi. Waktu itu Ibu Mertua saya sudah di Cikampek sejak akhir Januari 2014 untuk menemani istri saya melahirkan.
Hari itu juga, waktu saya di kantor, saya menerima SMS dari istri saya bahwa kondisi Ibu Mertua semakin lemah. Sejak sampai di Cikampek akhir Januari sebenarnya kondisi Ibu Mertua saya sedang sakit gondok. Dulu memang gondok itu tidak terasa sakit, hanya benjolan, namun sekarang gondok itu membuat tensi Ibu Mertua saya tinggi dan sakit kepala. Saya sempat memeriksakan Ibu Mertua saya di rumah sakit, dan memang diagnosanya Tiroid. Melihat kondisi Ibu Mertua saya yang semakin lemah, istri saya ingin Ibu Mertua saya berobat dulu di Klaten. Kami sepakat untuk memulangkan Ibu ke Klaten besok harinya, yaitu 8 Februari 2014.

8 Februari 2014
Siang ini saya mengantar Ibu Mertua saya pulang ke Klaten, ke tempat Mbak Ning. Berangkat dari rumah menuju Bandara Halim Perdana Kusuma jam 10.00, pesawat kami berangkat pukul 13.30 dan sampai di Bandara Adi Sucipto pukul 14.30. Mbak Ning sudah sampai terlebih dahulu di bandara. Selanjutnya Mbak Ning dan Ibu naik taksi ke Klaten dan langsung opname di RS Khusus Bedah Diponegoro.
Saya sendiri langsung naik pesawat lagi untuk balik ke Jakarta.. Get well soon Mom..

10 Februari 2014
Hari ini Ibu Mertua saya dioperasi untuk mengangkat benjolan di leher. Dan malam ini juga istri saya masuk rumah sakit untuk melahirkan Elka. Kata dokter kandungan istri saya, air ketubannya tinggal sedikit jadi sebaiknya secepatnya dilahirkan. Malam itu juga istri saya diinduksi.

11 Februari 2014
Pagi harinya suster memeriksa bukaan, namun belum ada bukaan. Jam 12.00 diperiksa lagi belum ada bukaan juga padahal ketuban sudah pecah sejak pagi. Sekitar jam 15.00 cairan untuk induksi tinggal sedikit dan masih belum ada bukaan juga, sedangkan istri saya sudah kesakitan karena kontraksi. Akhirnya kami putuskan untuk operasi sesar karena melihat kemungkinan melahirkan normal semakin kecil dan ketuban sudah pecah sejak pagi. Pukul 20.00 istri saya masuk ruang operasi, pukul 20.20 akhirnya Elka lahir dengan selamat. Alhamdulillah..

Elka sesaat setelah lahir

Elka sesaat setelah lahir

Bapak dan Ibu saya baru sampai di Cikampek hari kamis pagi.
Kebahagian yang kami rasakan terasa belum lengkap karena waktu istri saya melahirkan Elka hanya ditemani oleh Bapak mertua dan saya. Ibu mertua masih sakit di Klaten. Tiga minggu setelah Elka lahir, Ibu mertua diantar Mbak Ning naik kereta api ke Cikampek. Pada waktu itu kondisi sudah agak baikan, benjolan di leher beliau sudah diangkat. Ibu mertua di Cikampek kurang lebih 1 minggu dan harus kembali ke Klaten untuk melanjutkan pengobatan.

Mbah Uti dan Elka

Mbah Uti dan Elka

Kembali ke Jogja
Pertengahan Maret 2014 kondisi Ibu Mertua menurun, saya dan istri menjadi tidak tenang dengan kondisi Ibu Mertua saat itu. Akhirnya dengan mengucap bismillah kami niatkan untuk pulang ke Jogja. Kami sengaja tidak memberitahu Ibu mertua saya bahwa kami akan pulang, takutnya akan menjadi pikiran beliau. Tanggal 21 Maret 2014 saya, istri, dan Elka yang baru berusia 38 hari pulang ke Jogja dengan kereta api Krakatau. Kami sampai di Jogja jam 11 malam.

Esok paginya saya dan istri saya ke RSUP Sardjito, kebetulan waktu kondisi Ibu ngedrop posisinya sedang di rumah kakak ipar saya yang di Sleman. Sedih sekali rasanya melihat kondisi Ibu yang lemah, selang terpasang di leher untuk membantu pernafasan karena saluran pernafasan menyempit dan membuat Ibu sulit bernafas. Selama istri dan Elka di Jogja, saya seminggu atau 2 minggu sekali pulang ke Jogja.

30 April 2014, Ibu mertua saya meninggal dunia di Klaten dan dimakamkan di Ponjong, Gunungkidul. Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un. Tugas Ibu telah selesai, doa-doa Ibu telah dikabulkan Allah, kami sekarang sudah punya Elka, Ibu sudah melihat, menggendong, mencium, dan memeluk Elka. Semoga Ibu khusnul khotimah, kami selalu mendoakan Ibu setiap hari.
Sebelum meninggal Ibu sempat berpesan, “Ngati-ati le ngopeni Elka”.
Kami akan berusaha menjadi yang terbaik untuk Elka,
memberikan yang terbaik untuk Elka,
melakukan yang terbaik untuk Elka,
mendoakan yang terbaik untuk Elka.

elka

elka

Comments

  1. setyonize - September 5, 2014 @ 04:17

    Alhamdulillah, kesabaran tu ada buah manisnya masbro:)

  2. wahid 2 - September 7, 2014 @ 17:57

    wahid hasan junior…^_^

  3. eky - February 27, 2015 @ 22:43

    nangis aku hid bacanya.. ternyata dibalik haha hihi km n ida banyak “rahasianya” sun sayang buat ida n elka yah.. huhuhu..

  4. kantorkita.net - March 26, 2015 @ 14:57

    🙂

  5. Shimy - January 8, 2016 @ 16:21

    Subhanalloh,,,
    Speechless…
    Semoga sy bisa sebenruntunhhkluarga mas,
    Semoga ikhtiar saya berbuah
    Sy yakin akan,rencana allah buat saya. Elka sayang sehat selalu ya ..

    • wahidhasan - January 9, 2016 @ 07:22

      Terima kasih Mbak Shimy. Semoga usaha dan doa mbak diijabahi Allah..

Leave a Reply