Ibu, Kesederhanaan di Era Modern

Tulisan berikut diikutsertakan dalam kontes Fastron Blogging Challenge.

Kawan, hari ini saya akan bercerita tentang Ibu saya. Saya yakin saya bukan satu-satunya orang yang akan bercerita dengan bangga tentang hebatnya seorang Ibu. Dan memang sudah seharusnya seperti itu, seorang Ibu itu harus hebat, dan seorang anak harus bangga dan hormat sepenuh hati pada Ibunya.
Standar “hebat” bagi seorang ibu itu berbeda-beda, ada yang mengukur kehebatan Ibu dari kasih sayangnya kepada anak. Namun, ada juga yang mengukur kehebatan Ibunya dengan melihat kesuksesan anaknya. Dan saya adalah orang yang melihat Ibu saya dari dua sisi itu, kasih sayang yang tak pernah lekang oleh waktu dan betapa bersyukurnya di usia saya yang ke-27 ini dan usia adik saya yang ke-25, kami berdua telah memiliki kehidupan yang bahagia.
Betapa bahagianya Ibu saya, di usia yang belum terlalu tua, 54 tahun, telah menyelesaiakan kewajibannya. Kedua anak lelakinya kini telah lulus kuliah semua, mempunyai kehidupan yang bahagia, dan memiliki 2 menantu yang hebat-hebat juga. Dan sebentar lagi beliau akan menjadi Simbah karena istri adik saya sedang mengandung.

Sudahlah, jadi guru saja sudah cukup [WORK]

Foto : Ibu saya waktu awal-awal menjadi guru pada tahun 1980-an.

Ibu saya itu sebenarnya orang kota, Kotagede, Jogja. Pada tahun 1984 Ibu saya diterima menjadi PNS dan ditempatkan di sebuah SD di kecamatan Semin, kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Ibu saya yang awalnya tidak pernah merasakan susahnya air, akhirnya terbiasa juga dengan keadaan di Gunungkidul kala itu. Beberapa bulan setelah penempatan di Gunungkidul, Ibu saya bertemu bapak saya dan akhirnya mereka menikah. Bapak saya satu leting dengan Ibu saya dan sama-sama penempatan di Semin, Gunungkidul.
Ibu saya cepat beradaptasi dengan keadaan yang serba pas-pasan waktu itu. Beliau menjadi terbiasa mencuci di sungai, ngangsu (bahasa jawa artinya mengambil air dari tempat lain). Gaji PNS waktu itu masih sangat kecil, sehingga untuk membeli susu dan biaya berobat saya dan adik saya waktu kecil terasa kurang. Saya dan adik saya waktu kecil terkena flek paru-paru, dan pengobatannya sampai benar-benar tuntas butuh waktu lama. Ibu saya akhirnya memutuskan untuk membuka usaha catering dan jahit baju. Dari mana Ibu saya memperoleh ketrampilan memasak dan menjahit? Untuk ketrampilan memasak, Ibu saya diajari oleh simbah dan budhe saya. Sementara untuk ketrampilan menjahit Ibu saya sejak SD sudah terampil menjahit karena waktu SD sudah bekerja menjadi buruh jahit di Kotagede. Maklumlah, Simbah saya bukan orang kaya raya. Meskipun Ibu saya sekolah sambil bekerja, prestasi Ibu saya di sekolah termasuk cemerlang, langganan juara 1.
Bagitu juga dengan Bapak saya, untuk menambah penghasilan beliau selain mengajar di SD juga mengajar di SMEA Muhammadiyah. Kalau itu di SMEA tersebut masih ada kelas siang, jadi kalau pagi mengajar di SD lalu siangnya lanjut mengajar di SMEA. Ketika hari minggu SD libur, Bapak saya seharian mengajar di SMEA karena memang sekolah tersebut liburnya hari Jum’at.
Ketika gaji PNS sudah mulai membaik, Ibu saya memutuskan untuk menghentikan usaha catering dan jahit. Meskipun kadang juga masih terima orderan catering sedikit-sedikit. Jadi Ibu saya memilih menjadi guru SD saja, toh gaji sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan Ibu punya lebih banyak waktu dengan saya dan adik saya. Bapak dan Ibu saya punya aturan tidak tertulis untuk saya dan adik saya waktu itu, misalnya :
1. Kalau main harus pamit.
2. Sebelum adzan maghrib sudah harus di rumah dan setelah maghrib tidak boleh keluar rumah lagi.
3. Sholat maghrib harus jamah di rumah, karena kebetulan rumah saya jauh dari masjid.
4. Makan malam harus bersama-sama, tidak boleh ada yang boleh makan duluan. Saya ingat waktu kecil pernah dimarahi bapak saya karena makan duluan. Dan saya ingat juga waktu SMA ditanya oleh guru BK, siapa yang kalau di rumah makannya masih bersama-sama? Dengan bangga saya angkat tangan, dan ternyata dari seluruh murid di kelas saya hanya beberapa saja yang masih rutin makan bersama. Betapa bangganya saya ketika itu, ternyata hal sederhana seperti itu begitu berharga.
Pada tahun 2009 Bapak saya diangkat menjadi kepala sekolah, dan Ibu saya memutuskan akan tetap menjadi guru sampai pensiun. Ibu saya lebih senang setiap hari berjumpa dengan murid-muridnya. Ibu saya tidak pernah mengeluh menghadapi murid-muridnya yang bandel. Jika muridnya ada yang tidak mampu Ibu saya dengan senang hati akan membantu, bahkan saat ini Ibu saya punya anak asuh yang masih sekolah di Madrasah Aliyah, setingkat SMA. Anak asuh Ibu saya itu dulu waktu SD muridnya Ibu saya, Ibu saya tahu ia punya potensi dan Ibu saya punya cita untuk menyekolahkannya sampai lulus kuliah. Saya dan adik saya sudah menganggap anak asuh Ibu saya tersebut sebagai keluarga sendiri.
Bagi Ibu saya bekerja sebagai guru benar-benar menjadi aktualisasi diri. Dan beliau sepenuh hati menjalani profesi sebagai guru yang bisa digugu lan ditiru. Perjumpaan Ibu saya dan murid-muridnya membuat Ibu selalu punya cerita baru untuk bapak saya, saya, dan adik saya. Biasanya sambil makan malam beliau akan bercerita tentang murid-muridnya yang membanggakan, menggemaskan, dan menjengkelkan. Buat beliau, begitulah anak-anak, bandel itu lumrah, yang penting tidak terbawa sampai tua karena ia harus berkembang dan menjadi dewasa. Itulah gunanya pendidikan.

Ajining diri gumantung soko kedaling lathi, Ajining Rogo gumantung soko Busono.  [LIFE]

Ajining diri gumantung soko kedaling lathi
(Harga diri seseorang itu tergantung dari tatacara dia bicara)
Ajining Rogo gumantung soko Busono
(Harganya raga ini tergantung pada cara berpakaian kita)

Ibu saya adalah orang yang sadar benar dengan wejangan di atas, dan itu benar-benar ditanamkan pada anak-anaknya. Di lingkungan saya, berbicara dengan orang yang lebih tua harus menggunakan bahasa halus, boso kromo inggil. Bagaimana cara Ibu saya mengajari saya? Dengan menyuruh saya berbelanja, bukan belanja kayak Ibu-Ibu di pasar. Yah paling beli gula pasir, teh, atau garam. Kok berbelanja? Karena di kampung saya waktu itu belum ada penjual sayur keliling dan saat berbelanja itulah saya harus berbicara pakai bahasa Jawa halus karena penjualnya sudah sepuh. Ibu saya dulu biasanya menyuruh saya membeli keperluan dapur di warungnya Mbah Pawiro. Sebelum berangkat saya diberi catatan barang-barang apa saja yang dibeli untuk memastikan tidak ada yang kelewatan. Selanjutnya, Ibu saya mengucapkan kata-kata yang harus saya ucapkan kepada penjualnya. Misalnya, : “Mbah, kulo dipun utus Ibuk mundut gendhis pasir”. Bagi Ibu saya, memalukan jika anaknya sampai tidak bisa berbicara halus kepada orang lain. Ibu saya merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk memastikan anak-anaknya mampu berbicara halus kepada orang lain.
Ibu saya termasuk orang yang tertib untuk masalah busana. Ketika sedang memasak dengan daster di dapur, lantas ada tamu yang datang, maka beliau akan ganti baju dulu sebelum menemui tamu tersebut. Begitu juga ketika ketika keluar rumah, beliau akan memakai pakaian yang pantas. Itu pula yang beliau tekankan pada anak-anaknya. Kalau saya mengantar Ibu ke sekolah, tidak boleh memakai celana pendek. Sebenarnya makanya sederhana, mengantar Ibu ke sekolah artinya saya akan turut menginjakkan kaki di sebuah tempat pendidikan, guru dan siswanya berbusana rapi, dan untuk menghormati mereka sepantasnya saya juga berpakaian yang rapi.

Nak, kalau bukan untukmu, untuk siapa lagi? [LOVE]
Saya dan adik saya selalu menjadi juara kelas waktu sekolah. Dan saya sekarang kalau ingat jaman dulu jadi malu sendiri, ketika Ibu saya puasa senin-kamis, saya malah asyik jajan. Lalu ketika Ibu bangun di sepertiga malam untuk sholat tahajud, saya malah enek-enakan tidur. Benar, Ibu saya itu akan berkorban apapun untuk keberhasilan anaknya. Bahkan saat saya mendapat tugas belajar di Jakarta, Ibu saya masih rajin solat tahajud dan puasa senin kamis. Meskipun saya berhasil lulus dengan nilai tidak terlalu tinggi. Saya sangat bersyukur, apa jadinya kalau Ibu saya tidak mendoakan saya siang dan malam, mungkin saya sudah ke DO di semester awal. Kebetulan kampus saya menerapkan sistem DO di setiap semester.
Jika ditanya perhiasan apa yang dimiliki Ibu saya, maka jawabannya adalah NIHIL. Ibu saya dari dulu tidak pernah memakai kalung, gelang, dan cincin. Jika ada uang berlebih Ibu saya lebih memilih untuk membelikan baju untuk saya dan adik saya. Wanita berjilbab sudah cukup anggun tanpa gelang dan cincin yang berkilauan. Begitulah Ibu saya. Beliau lebih bahagia melihat anak-anaknya memakai pakaian yang bagus dan wangi.

Jangan lupa berdo’a dan sodekah [SPIRITUAL]
Ibu saya adalah orang yang rajin kirim SMS kepada saya, apalagi waktu saya dulu belum menikah. Dan harus saya akui, saya lebih sering SMS-an dengan Ibu daripada telepon. Dan setiap kali SMS-an dengan Ibu, SMS terakhir dari Ibu isinya selalu mengingatkan saya untuk banyak berdoa dan sedekah.
Saya bahagia ada yang mengingatkan dan saya kadang malah malu. Bagaimana tidak, Ibu saya adalah wanita yang kuat duduk bersimpuh sambil berdzikir dan berdoa di sepertiga sampai dengan Subuh. Dan untuk urusan sedekah, Ibu saya telah membantu banyak orang. Ibu saya percaya bahwa doa dan sedekah itu akan kembali kepada kita juga, Allah akan memberikan rejeki yang berlipat ganda, memberikan kesehatan, memberikan keselamatan, dan tentu saja keberkahan. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk sesamanya.

Begitulah cerita tentang Ibu saya yang sederhana, bukan wanita dengan gelar yang berjejer-jejer, bukan wanita karir yang sibuk bekerja dari pagi sampai malam, bukan pula wanita yang melek teknologi. Kesederhanaan yang akan tetap relevan dengan kehidupan saat ini dan masa yang akan datang. Kesederhanaan yang memberikan manfaat kepada sesama. Dan kesederhanaan yang membawa berkah.

We love You mom..

Foto : Pernikahan adik saya, maka tuntas sudah kewajiban Ibu saya menyelesaikan pendidikan hingga ke jenjang pernikahan.

#Fastron Blogging Challenge#Ibu#Kesederhanaan

Comments

Leave a Reply