Cerita Tentang Hidup Baru di Cikampek

Percayakah Anda, IPK jelek itu bisa juga membahagiakan. Saya itu dapat IPK jelek bukan karena saya bodoh, tapi karena saya malas. Andai saja saya itu orangnya rajin belajar, IPK saya mungkin lebih membanggakan. Tapi kenyataanya, IPK jelek justru membuat saya bisa keluar dari Jakarta. Yup, setelah 2,5 tahun menjadi warga ibu kota, mulai Juni 2011 ini saya resmi menjadi warga Cikampek. Meskipun sebenarnya saya ingin pindah ke Jogja, tak apalah yang penting terbebas dari macetnya Jakarta. Kalau saja saya punya IPK 10 besar, wah tidak kebayang saya akan menghabiskan waktu di jalanan ibu kota. Tahukah kamu boy, konon ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri.

Seharusnya saya pindah bulan Maret, namun karena ada training lagi 2 bulan, akhirnya awal Juni baru pindahan ke Cikampek. Syukur Alhamdulillah saya merasa semuanya dimudahkan oleh Allah. Mari kita urai..

1. Rumah.

Saya tidak menyangka bisa dapat rumah sekomplek dengan Mas Tri dan Mbak Sita. Terus dapat kontrakan lumayan besar, dan harganya lumayan murah. Memang sih, catnya kurang bagus, justru hikmahnya saya akhirnya bisa nge-cat rumah  sesuka hati, dan punya kamar ungu sesuai permintaan istri saya.

Dalam 5 tahun terakhir, saya pindah-pindah, dan saya bisa belajar tentang bahasa dan kehidupan disana. Bagitu juga saat ini, setelah kemarin 2,5 tahun hidup di lingkungan masyarakat Betawi, saat ini saya dan istri saya akan belajar tentang segala hal yang berkaitan dengan masyarakat Sunda. Alhamdulillah saya dan istri sayabisa cepat krasan di lingkungan baru. Meskipun di perumahan, tetangga-tetangga saya cukup hangat.

2. Pekerjaan

Alhamdulillah saya ditugaskan di bagian yang tidak berhubungan dengan client, saya di bagian supporting unit, back office. Dan saya benar-benar menikmatinya karena tidak banyak pertentangan batin yang saya rasakan. Saya juga punya atasan yang baik banget, tidak galak, care, dan bisa mengikuti perkembangan institusi yang semakin hari semakin bersih.

3. Kemacetan

Wah ini nih yang membuat saya agak sedih, ternyata Cikampek sama macetnya dengan Jakarta. Dan entah mengapa dari tahun ke tahun tidak juga ada perbaikan.

Inilah kesan saya setelah beberapa bulan menjadi warga Cikampek.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *